Selasa, 07 Mei 2013

MEMBIASAKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA DALAM KESEHARIAN DI SEKOLAH


MEMBIASAKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA DALAM KESEHARIAN DI SEKOLAH
ABSTRAK
Siswa terasa asing terhadap bahasa nasionalnya yaitu bahasa Indonesia.  Mereka enggan   mengunakan  dalam  percakapan  atau  berbicara  pada kesehariannya, terutama di lingkungan sekolahnya. Keterasingan berbicara bahasa Indonesia ini karena tidak adanya aturan yang mengikat  dalam  penggunaanya.  Bahkan  guru  sebagai  pendidikpun  enggan  melakukannya.  Maka  perlu  adanya  pemecahan terhadap   permasalahan   di   atas.  Dibuatnya  aturan dari sekolah,  keteladanan  guru  dalam  penggunaan bahasa Indonesia, pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai kompetensi, dan penilaian praktik secara rutin. Hal tersebut akan memberikan  dorongan  bagi siswa  untuk  mempraktikan  dalam  kehidupan  sehari-hari  pada  dunia  pendidikan. Sungguh ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi bangsa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia.
Kata kunci : Bahasa Indonesia, berbicara, praktik, keteladanan

PENDAHULUAN
Dalam    Undang-Undang   Nomor    20   Tahun   2003    tentang    Sistem   Pendidikan  Nasional  Tahun   2003   pada  lampiran  3g  dan  juga  dalam  Peraturan  Menteri  Pendidikan Nasional   Nomor   74  Tahun   2009   tentang   Ujian   Akhir   Sekolah   Berstandar   Nasional  (UASBN)  untuk SD,MI, dan SLB Tahun Pelajaran 2009/2010 memuat   Standar  Kompetensi  Lulusan    mata   pelajaran   bahasa   Indonesia   yang   menuntut   bagi   siswa  mempunyai   berbagai   keterampilan  berbahasa  Indonesia  yang   baik   dan   benar.  Sehingga   siswa   yang   telah  lulus   seharusnya  memiliki   keterampilan   berbahasa    Indonesia    sesuai   standar    kelulusan.   Tetapi   kenyataannya    dalam    praktik    sehari-hari     pada    lembaga   pendidikan   baik   tingkat   dasar  maupun   perguruan   tinggi   kurang   mendukung  terhadap  keterampilan    berbahasa    Indonesia, terutama dalam keterampilan berbicara. Hal    ini   terlihat   pada setiap lembaga  pendidikan,  misalnya : pada   saat   proses    kegiatan   belajar  mengajar    bahasa   Indonesia   baik  guru   atau   siswa  tidak  berbicara  menggunakan  bahasa  Indonesia, apalagi di luar  kelas   guru   atau   siswa   selalu berbicara menggunakan bahasa  daerahnya.
Untuk itu  perlu  adanya  upaya   membiasakan  berbahasa  Indonesia  dalam berbicara pada  saat   terjadinya   interaksi  hubungan  antara   guru  dengan  siswa  di  sekolah. Upaya  ini   sangat penting  sekali   karena  dapat   membantu   tercapainya   standar    kompetensi    lulusan   bagi   siswa   SD/MI   dengan   terbiasanya  menggunakan  bahasa  Indonesia  yang  baik  dan  benar.
Bertitik  tolak   dari  hal atas, maka bagaimana upaya-upaya membiasakan siswa berbicara   bahasa  Indonesia  di  sekolah ?
A.   Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia di Sekolah
Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Hal ini mendorong orang   untuk   belajar   berbicara  dan  membuktikan   bahwa   berbicara   akan   lebih   efektif dibandingkan dengan  bentuk-bentuk  komunikasi  yang  lain.  Maka bagi  siswa   bicara  tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga  berfungsi  untuk  mencapai  tujuannya.  Sehingga dalam pembelajaran  bahasa  Indonesia  keterampilan  berbicara  merupakan  kompetensi  yang harus  diujikan sesuai jenjang kelasnya. Keterampilan  berbicara  bahasa Indonesia  di  sekolah dasar ini hanya terwujud pada proses kegiatan  belajar  mengajar  di kelas  saja.  Dalam kompetensi umum mata pelajaran bahasa Indonesia SD aspek berbicara megungkapkan indikator-indikator yang berhubungan dengan mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan,, berpidato, berdialog, menyampaikan pesan, bertukar pengalaman, menjelaskan, mendiskripsikan, bermain peran, dan percakapan yang hanya dilakukan dalam pembelajaran saja.
Keterampilan berbicara bahasa Indonesia   yang  berhubungan  dengan  keseharian  tidak pernah diukur dan  dinilai. Para  siswa  dibiarkan  berbicara  menggunakan  bahasa  daerahnya masing-masing,   padahal   bahasa   resmi   yang  digunakan  pada  pendidikan  adalah  bahasa Indonesia. Sungguh ironis bila hal ini dibiarkan berlarut-larut pada setiap lembaga pendidikan. Kadang lembaga pendidikan lebih merasa  bangga  bila  dapat  mengembangkan  bahasa  asing lebih maju daripada mengembangkan  bahasa Indonesia,  seperti  kata  pepatah “  kacang  lupa kulitnya .“ Ini adalah bukti konkret  pembelajaran  bahasa  Indonesia  di  sekolah   belum  bisa  mempraktikkan  dalam  kesehariannya.  Ketika  digunakan  dalam  percakapan sering sekali dijumpai berbicara dengan bahasa dialeknya contohnya :  bentar nanti ta anterin,emangnya Pak Guru kagak tahu?, biarin aja anak itu, dan lain-lain. Maka perlu adanya upaya bagi  guru  untuk  menentukan  kebijakan  supaya pembelajaran   bahasa   Indonesia   tidak   hanya  di  kelas  tetapi   juga   di  luar  kelas.
Bila  keterampilan  berbicara  bahasa  Indonesia  dapat  diterapkan  dalam  sehari-hari oleh seluruh anggota  sekolah  maka  akan  menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme.  Sehingga  dapat  mempersatukan  berbagai  macam  asal  siswa, hal ini sesuai dengan fungsi khusus bahasa Indonesia yaitu sebagai alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda(Yusi Rosdiana,2008)

B.  Hambatan Berbicara Bahasa Indonesia dalam Keseharian di  Sekolah
Usaha untuk  meningkatkan  keterampilan  berbicara bahasa  Indonesia  di  sekolah   akan  ditemui hambatan yang datang dari lingkungan sekolah itu  sendiri, antara lain :
1.  Adanya pandangan guru bahwa berbicara bahasa  Indonesia  dalam    keseharian di  sekolah itu tidak lazim.
Hal ini tercermin ketika dalam pergaulan sehari-hari mereka  enggan  berbicara bahasa  Indonesia bahkan  dengan  lugasnya  berbicara  seenaknya.  Mereka  lupa  bahwa penggunaan bahasa Indonesia dipakai pada bahasa resmi lembaga pemerintah dan pendidikan. Hal ini juga terjadi di sekolah-sekolah dari jenjang SD-SMA, mereka para guru tetap menggunakan bahasa daerahnya. Jarang sekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan teman guru atau bahkan dengan para siswanya.
2.    Belum adanya penilaian bagi siswa  yang berbicara bahasa Indonesia.
Keadaan yang demikian menimbulkan sikap apatis pada diri siswa karena merasa tidak ada gunanya baik yang berbicara bahasa Indonesia maupun yang tidak. Belum adanya pengawasan dan penilaian dari guru dalam pelaksanaan berbicara bahasa Indonesia di luar kelas mengakibatkan siswa acuh dalam mempraktikkannya. Sehingga perlu adanya model penilaian yang nyata dalam percakapan sehari-hari.
3.    Tidak adanya program  berbahasa Indonesia dari lembaga  pendidikan.
Untuk sementara ini pada setiap lembaga  pendidikan belum ada yang      mempunyai inisiatif memberlakukan bahasa  Indonesia  sebagai  bahasa  sehari-       hari.  Entah  karena gengsi atau merasa  bahasa  Indonesia  tidak  terkenal.       Padahal  dikatakan  oleh Profesor  Yang Seung- Yoon, Ph.D dari   Hankuk       University  of  Foreign  Stidiudies, Seoul, Korea, berpandangan bahwa bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional, setidaknya di Asia (M. Doyin, 2006). Pandangan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa kedudukan bahasa  Indonesia di mata negara lain memiliki potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, kebanggaan terhadap  bahasa Indonesia harus  kita pupuk  sedini mungkin sebagai wujud  penghargaan kita terhadapnya, sehingga ke depan kita dapat berharap bahasa Indonesia  menjadi besar.

C.  Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia di Sekolah
Untuk   mewujudkan    keterampilan    berbicara  bahasa   Indonesia    dapat diterapkan dalam percakapan  sehari-hari, maka upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah, dapat dilaksanakan program  sebagai  berikut :
1.    Guru menjadi model yang baik untuk dicontoh oleh siswa
Redja Mudyahardjo(Ishak Abdulhak:2008) mengelompokkan jenis kemampuan pokok yang ideal dikuasai guru prefesional, diantaranya  adalah kemampuan membantu siswa belajar efisien dan efektif agar mencapai tujuan optimal. Siswa sangat membutuhkan suatu model guru yang dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.   Guru  hendaknya memberikan contoh konkret dengan keteladanan  dalam berbahasa. Agar siswa  dapat  menirukan  dan  melafalkan  kata  atau    kalimat dengan tepat sesuai kaidah yang berlaku.
Dalam melaksanakan upaya di atas, maka dalam kegiatan sehari-hari di sekolah dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka berbicara bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, ruang guru, atau di luar kelas. Para guru pada saat berkomunikasi selama di sekolah  selalu berbicara bahasa Indonesia, adanya kebiasaan guru yang demikian cukup membantu siswa dalam belajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia sehingga guru oleh siswa  dijadikan contoh  dalam berbicara.
2.    Menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan  berbicara bahasa Indonesia perlu menerapkan pendekatan Modeling The Way (membuat contoh praktik). Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui demonstrasi, dari hasil demonstrasi ini kemudian diterapkan dalam keseharian di sekolah, yaitu siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil, identifikasi beberapa situasi umum yang biasa siswa lakukan di ruang kelas dan  luar kelas dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, kemudian siswa mendemonstrasikan satu persatu dalam berbicara bahasa Indonesia. Modeling The Way memberi waktu siswa untuk menciptakan  skenario sendiri dan menentukan bagaimana mengilustrasikan keterampilan berbicara sesuai kelompoknya. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberikan feedback pada setiap demonstrasi yang dilakukan.
Dengan pendekatan Modeling The Way dalam pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara siswa  dapat meningkat dan keberanian siswa dalam berbicara semakin berani dan tidak takut salah, dari kegiatan tersebut diperoleh contoh  data di SDN Tegalwangi 01  sebagai berikut : pembelajaran awal sebelum menggunakan pendekatan Modeling The Way dari 45 siswa kelas VI hanya 16 siswa yang sudah aktif berbicara bahasa Indonesia dengan prosentase 36 % sedangkan 29 siswa masih pasif dalam berbicara dengan prosentase 64 %. Setelah dalam pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan Modeling The Way maka diperoleh data sebagai berikut : siswa yang aktif berbicara menjadi 41 siswa atau 91 % sedangkan 4 siswa atau 9 % dilakukan pembinaan individual. Dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia pada siswa  tepat karena dapat meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara bahasa Indonesia.
3.    Adanya penilaian keterampilan berbicara bahasa Indonesia
Walaupun pelaksanaannya di luar kegiatan belajar mengajar tetapi guru harus mengadakan penilaian keterampilan berbicara pada  kesehariannya.  Penilaian ini akan menjadi motivasi bagi siswa untuk berusaha  mempraktikkannya  baik di dalam  kelas maupun di luar kelas.  Dengan   demikian  siswa  termotivasi  untuk  melakukan   perbuatan   yang  sama  bahkan berusaha   meningkatkannya.
Penilaian praktik di luar kelas dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai pada pendekatan Modeling The Way. Pada kelompok-kelompok tersebut setiap siswa diberi lembar penilaian yang memuat nama siswa yang diamati yaitu siswa yang tidak berbicara bahasa Indonesia baik di dalam kelas maupun di luar kelas, data kalimat yang tidak diucapkan dengan bahasa Indonesia oleh  siswa tersebut, dan data rekap kesalahan siswa. Setiap siswa dalam pergaulannya sehari-hari di sekolah saling menilai teman-temannya, sehingga mereka sama-sama saling mengawasi. Dengan kondisi dan situasi yang demikian maka seluruh siswa  berusaha semaksimal mungkin berbicara bahasa Indonesia sehari-hari, supaya jumlah kesalahan yang dicatat temannya sedikit mungkin. Hal inlah yang membuat siswa semakin berani dan percaya diri berbicara bahasa Indonesia di sekolah.
4.    Sekolah Membuat Program ” Sehari Berbahasa Indonesia
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa adalah kondisi eksternal. Kondisi eksternal yaitu faktor di luar diri siswa, seperti lingkugan   sekolah, guru,teman sekolah, dan peraturan sekolah.  Kondisi eksternal terdiri atas 3 prinsip belajar yaitu :
(a)    memberikan situasi atau materi yang sesuai dengan respon yang diharapkan,
(b)   pengulangan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama di ingat,
(c)    penguatan respons yang tepat untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu(Yusi Rosdiana,2008)
Program sehari berbahasa di tiap  sekolah  merupakan  kondisi eksternal   yang efektif untuk mempraktikkan keterampilan berbahasa. Hal ini sudah sangat  lazim  dilakukan pada pondok pesantren modern,  contohnya  Pondok Pesantren  Gontor   yang    menerapkan   program  kepada  santrinya  untuk sehari  berbahasa  Arab  dan  sehari  berbahasa  Inggris,  sehingga santrinya mahir berbahasa Arab dan Inggris.
Bila program  ini dapat diterapkan di sekolah tentunya  akan  sangat  bermanfaat  dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Mereka akan terbiasa dan tidak  canggung berbicara   bahasa Indonesia di lingkungan sekolah. Program ini ternyata cukup ampuh untuk pembiasaan bagi warga sekolah untuk berbicara bahasa Indonesia.
Dari upaya-upaya pembiasaan berbicara bahasa Indonesia di atas, kita berharap  penguasaan  keterampilan berbicara bahasa  Indonesia  dapat  dimulainya  pada tataran  sekolah  dasar, sehingga siswa  dapat  mempraktikkannya   dengan  baik  dan  benar.  Bila hal itu berhasil maka  amanat  yang  ada  pada  Undang-Undang  Sistem  Pendidikan  Nasional  dapat  tercapai tujuannya dan sekaligus sebagai penghargaan kepada  para  tokoh  yang  memperjuangkan  bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Apalagi  kita sebagai  generasi  penerus  bangsa harus dapat mengembangkan dan melestarikan bahasa Indonesia. Kapan lagi  kalau tidak dari sekarang?


DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang R.I Nomor : 20 (2003). Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi
Hisyam Zaini, Barmawy Munthe, Sekar Ayu Aryani (2008). Strategi Pembelajaran Aktif Yogyakarta : Pustaka Insan Madani dan CTSD
Puji Santoso, dkk.(2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta : Universitas Terbuka
M. Doyin, (2006). De Facto dan De Jure Bahasa Baku. Tegal : Jurnal Pendidikan Metodika



Kamis, 02 Mei 2013

Pembelajaran Berdasarkan Masalah


Pembelajaran Berdasarkan Masalah

A.     Konsep Dasar  
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini pada dasarnya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya seperti pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna.
Berbeda  dengan  pembelajaran penemuan (inkuiri-diskoveri) yang lebih menekankan pada masalah akademik.  Dalam Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning), pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar-benar nyata sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui. Jadi,  Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  lebih  memfokuskan  pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa.
Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
B.     Alasan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Beberapa alasan mengapa Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) digunakan dalam proses pembelajaran:
  1. Seorang lulusan tidak dapat menaggulangi masalah yang dihadapinya hanya dengan menggunakan satu disiplin ilmu. Ia harus mampu menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dipunyai atau mencari ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya dalam rangka menanggulangi masalahnya. Melalui Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) yang diawali dengan pemberian masalah pemicu kepada  siswa dapat menerapkan suatu model pembelajaran secara spiral (spiral learning model) dengan memilih konsep dan prinsip yang terdapat dalam sejumlah cabang ilmu, sesuai kebutuhan masalah. Dengan diberi sejumlah masalah pemicu, diharapkan sebagian besar/seluruh materi cabang ilmu dicakup.
  2. Integrasi antara berbagai konsep/prinsip/informasi cabang ilmu dapat terjadi
  3. Kemampuan mahasiswa untuk secara terus menerus melakukan “up-dating”/pengembangan pengetahuannya tercapai
  4. Perilaku sebagai seorang “ life long learner” dapat tercapai
  5. Langkah-langkah PBL yang dilaksanakan melalui diskusi kelompok dapat menghasilkan sejumlah keterampilan  diantaranya: (a) keterampilan  penelusuran kepustakaan; (b) keterampilan  membaca; (c) keterampilan/kebiasaan membuat catatan; (d) kemampuan kerjasama dalam kelompok; (e) keterampilan  berkomunikasi; (f) keterbukaan; (g) berpikir analitik; (h) kemandirian dan keaktifan belajar; dan (i) wawasan dan keterpaduan ilmu pengetahuan
  6. Dapat mengimbangi kecepatan informasi atau ilmu pengetahuan yang sangat cepat.
C.    Ciri dan Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa ciri dan karakteristik sebagai berikut:
  1. Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik dan menghindari pembelajaran terisolasi
  2. Berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
  3. Menciptakan pembelajaran interdisiplin,
  4. Penyelidikan masalah autentik yang terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis .
  5. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
  6. Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
  7. Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil (kooperatif).
  8. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing.
  9. Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
  10. Masalah adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
  11. Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
D.    Keunggulan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: (1) siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut; (2) melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi; (3) pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna; (4) siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari; (5) menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa; dan (6) pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.
Selain itu, Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) diyakini pula dapat menumbuhkan-kembangkan kemampuan kreatifitas siswa, baik secara individual maupun secara kelompok karena hampir di setiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa.
Keberhasilan model Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  sangat tergantung pada ketersediaan sumber belajar bagi siswa, alat-alat untuk menguji jawaban atau dugaan. Menuntut adanya perlengkapan praktikum, memerlukan waktu yang cukup apalagi data harus diperoleh dari lapangan, serta kemampuan guru  dalam mengangkat dan merumuskan masalah.
Dalam model Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  ini,  guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator. Guru mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa kepada permasalahan nyata (real world), memfasilitasi/membimbing (scaffolding) dalam proses penyelidikan, memfasilitasi dialog antara siswa, menyediakan bahan ajar siswa serta memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intektual siswa.
E.     Langkah-langkah  Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Pengelolaan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah terdapat 5 langkah utama. yaitu: (1)  mengorientasikan siswa pada masalah; (2)  mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok; (4)  mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; dan (5)  menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Gambaran rinci kelima langkah tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1. Prosedur Pembelajaran Berdasarkan   Masalah
Langkah
Kegiatan Guru
Orientasi masalah
  • Menginformasikan tujuan pembelajaran
  • Menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadi pertukaran ide yang terbuka
  • Mengarahkan pada pertanyaan atau masalah
  • Mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara terbuka
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
  • Membantu siswa menemukan konsep berdasar masalah
  • Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi dan cara belajar siswa aktif
  • Menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukan
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
  • Memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah
  • Mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas
  • Mendorong dialog, diskusi dengan teman
  • Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah
  • Membantu siswa merumuskan hipotesis
  • Membantu siswa dalam memberikan solusi
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja
  • Membimbing siswa mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKP)
  • Membimbing siswa menyajikan hasil kerja
Menganalisa dan mengevaluasi hasil pemecahan
  • Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan masalah
  • Memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemcahan masalah
  • Mengevaluasi materi

Model Pembelajaran Bermain Peran


Model Pembelajaran Bermain Peran

Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan social. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, Tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri.
Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Bermain peran merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Manusia merupakan makhluk social dan individual, yang dalam hidupnya senantiasa berhadapan dengan manusia lain atau situasi di sekelilingnya. Mereka berinteraksi, berinterdepedensi dan pengaruh mempengaruhi. Sebagai individu manusia memiliki pola yang unik dalam berhubungan dengan manusia lain. Ia memiliki rasa senang, tidak senang, percaya, curiga, dan ragu terhadap orang lain. Namun perasaan tersebut diarahkan juga pada dirinya. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan dirinya itu mempengaruhi pola respon individu terhadap individu lain atau situasi di luar dirinya. Karena senang dan penasaran ia cenderung mendekat. Karena tidak senang dan curiga ia cenderung menjauh. Manipestasi tersebut disebut peran.
Peran dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada factor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.
Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.
Selama pembelajaran berlangsung, setiap pemeranan dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, marah, senang, dan peran lainnya. Pemeranan tenggelam dalam peran yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan.
Pada pembelajaran bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.
Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat (1) mengeksplorasi perasaannya; (2) memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya; (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi; dan (4) mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.
Pembelajaran partisipatif memiliki prinsip tersendiri dalam kegiatan belajar dan kegiatan pembelajaran. Prinsip dalam kegiatan belajar adalah bahwa peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik belajar, dan berperilaku belajar. Prinsip dalam kegiatan membelajarkan bahwa pendidik menguasai metode dan teknik pembelajaran, memaham materi atau bahan belajar yang cocok dengan kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam langkah operasional kegiatan pembelajaran, sebagai wujud interaksi dukasi antara pendidik dengan peserta didik dan/atau antar peserta didik. Pendidik berperan untuk memotivasi, menunjukkan, dan membimbing peserta didik supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar. Seangkan peserta didik berperan untuk mempelajari, mempelajari kembali, memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya.
Penerapan pembelajaran partisipatif mensyaratkan tersedianya berbagai metode dan teknik pembelajaran yang cocok untuk itu. Metode pembelajaran adalah kegiatan atau cara umum penggolongan peserta didik, sedangkan teknik pembelajaran adalah langkah atau cara khusus yang digunakan pendidik dalam masing-masing metode pembelajaran. Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran partisipatif ternyata bermacam ragam, yang dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu metode pembelajaran perorangan (individual methods), metode pembelajaran kelompok (group methods), dan metode pembelajaran missal atau pembangunan masyarakat (community methods) (Verne dan Knowles, 1977:13). Teknik-teknik pembelajaran partisipatif, berdasarkan pengelompokan metode, beraneka ragam pula. Dalam metode pembelajaran perorangan dikenal teknik pembelajaran yaitu tutorial, bimbingan perorangan, pembelajaran individual, magang, sorogan. Dalam metode pembelajaran kelompok terdapat teknik diskusi, demontrasi, simulasi, kerja kelompok, situasi hiptetis, pemecaham masalah kritis, bermain peran dan sebagainya. Ke dalam metode pembelajaran masal atau pembangunan masyarakat, termasuk teknik kontak social, ‘’paksaan sosial’’ (social pressure), demontrasi proses dan/atau demontrasi hasil, aksi partisipasi. Teknik-teknik pembelajaran dalam setiap metode itu tidak dapat dipisahkan secara mutlak, karena suatu teknik dapat pula digunakan dalam metode yang berbeda, seperti metode demonstrasi yang digunakan dalam metode pembelajaran kelompok dapat digunakan pula dalam metode pembelajaran missal/pembangunan masyarakat atau dalam metode pembelajaran perorangan.