Jumat, 18 Maret 2016

Foto keluarga
























Soal UTS genap bin 8 2015-2016


ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP
SMP NEGERI 1 DUKUN
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia                                          Nama               : ………………..
Kelas                           : VIII ( A, B )                                                 Waktu             :  ………………..
 
                                                                             
I.                    Pilihlah jawaban yang paling tepat !
1.       Belitung - Luar biasa. Sesuai dengan prediksi para ahli astronomi, gerhana matahari total (GMT) melintasi sejumlah daerah di Indonesia kemarin pagi (9/3). Fenomena alam langka yang membuat siang menjadi gelap seperti malam itu merupakan anugerah yang luar biasa.
Pokok berita paragraf di atas adalah ….
a.       gerhana matahari total (GMT) melintasi sejumlah daerah di Indonesia
b.       Fenomena alam langka yang membuat siang menjadi gelap
c.        seperti malam itu merupakan anugerah yang luar biasa.
d.       Sesuai dengan prediksi para ahli astronomi, gerhana matahari total
  1. Dalam sambutannya, Menpar Arief Yahya menyatakan, jumlah pengunjung Pantai Tanjung Kelayang mencapai 50 ribu orang. Pada masa-masa liburan biasa, paling banyak wisatawan yang mampir ke Tanjung Kelayang hanya 5 ribu orang. “Jadi, wajar kalau penuh sesak di sepanjang pantai”. Ujarnya.
Pokok berita paragraf di atas adalah ….
a.       Pada masa-masa liburan biasa, paling banyak wisatawan yang mampir ke Tanjung Kelayang hanya 5 ribu orang
b.       jumlah pengunjung Pantai Tanjung Kelayang mencapai 50 ribu orang
c.        wajar kalau penuh sesak di sepanjang pantai”. Ujarnya.
d.       Dalam sambutannya, Menpar Arief Yahya menyatakan
  1. Pernyataan persetujuan yang baik di bawah ini adalah ….
a.       Saya sih, setuju-setuju saja asal menyenangkan.
b.       Saya setuju pokoknya ada uangnya !
c.        Sesuai dengan pemaparan saudara yang meyakinkan itu, saya sekarang lebih setuju dan mendukung
d.       Saya setuju asalkan sesuai dengan keinginanku.
  1. Pernyataan penolakan yang baik di bawah ini  adalah ….
a.       Saya sangat tidak setuju, apa itu ?
b.       Saya menolak mentah-mentah, apa yang kau inginkan salah semua.
c.        Gagasanmu kurang cocok diterapkan di sini !
d.       Sebenarnya gagasan saudara itu baik, tapi untuk sekarang masih belum waktunya lebih baik diundur saja.
  1. Keindahan puncak Papandayan sudah terkenal sejak zaman Belanda. Ini terungkap dalam beberapa brosur yang diterbitkan Bandoeng Vooruit, sebuah perkumpulan penggemar wisata di Bandung, pada tahun 1930-an. Di sana Gunung Papandayan selalu dipromosikan nomor satu.
Unsur instrinsik yang menonjol dalam penggalan cerita di atas adalah….
a.       Tema
b.       Amanat
c.        Latar
d.       alur
  1. Pemandangan pada ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut itu sungguh menakjubkan.Di sebelah timur, Kota Garut terlihat samar-samar. Di sebelah barat, perkebunan teh terhampar bagai permadani raksasa. Menghadap ke utara, kami melihat Gunung Puntang berdiri menantang. Lalu, di selatan tampak garis biru Lautan Hindia menyajikan panorama yang memesona. Hilanglah segala kepenatan sehari sebelumnya setelah berjam-jam mengayuh sepeda.
Rangkuman paragraph di atas adalah ….
a.       Pemandangan sungguh menakjubkan bagai permadani raksasa panorama yang memesona
b.       Pemandangan pada ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut itu sungguh menakjubkan
c.        Kota Garut terlihat samar-samar
d.       perkebunan teh terhampar bagai permadani rak
  1.  Karena Kuku ramah dan baik, akhirnya Landa bercerita tentang hal yang menimpanya. Setelah mendengar cerita itu Kuku merasa iba kepada Landa. Kuku berusaha menghibur Landa. Dia juga mengundang Landa ke pesta di rumahnya. Landa senang mendapat undangan itu. Keesokan harinya Landa datang ke rumah Kuku. Dengan senang dan bergembira dia segera menuju ke rumah Kuku. Setelah sampai di rumah Kuku ternyata sudah banyak binatang lain yang hadir dalam pesta tersebut, termasuk monyet, kambing, dan kancil.
Pelaku utama penggalan cerita di atas adalah ….
a.       Kuku dan Monyet
b.       Kuku dan Kambing
c.        Kuku dan Kancil
d.       Kuku dan Landa
  1. Hal yang bisa kita contoh  dalan penggalan cerita pada soal nomor 7  adalah ….
a.       Menceritakan kebaikan dan kekurangan orang
b.       Bersikap ramah kepada siapa saja
c.        Menghadiri undangan hanya kepada yang mampu saja
d.       Mengabaikan undangan orang lain
  1. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membawakan acara adalah…
a.       Penggunaan bahasa yang keras lantang
b.      Penggunaan bahasa yang santun dan komunikatif
c.       Penggunaan bahasa yang indah merdu mempesona
d.      Penggunaan bahasa yang canggih dan moderen
  1. Bahan diskusi yang sesuai masa kini adalah…
a.       Binatang purba perlu dilestarikan
b.      Lima ratus tahun yang lalu Nusantara pernah jaya
c.       Era Orde baru perlu dicontoh lagi
d.      Bagaimana menatap masa depan yang gemilang
  1. Perempuan dan pandangnya yang ….
Bertimbang pada lampu jalan dan sepi
Di depan pasar, sudut kota dekat terminal
Bagian rumpang puisi di atas diisi dengan kata …
a.       Sayu
b.       Sunyi
c.        Sedih
d.       pedih
  1. Kalimat di bawah ini yang benar adalah…
a.       Dahulu kala di tengah-tengah hutan yang sangat lebat di atas bukit terdapat sebuah desa yang dihuni oleh beraneka ragam serangga.
b.       Hai...selamat  pagi....” kata  Mira  menyapaku. Aku  hanya tersenyum  melihat  tingkah  Mira.
c.        “Aku  jadi  terharu...”kataku  sambil  nyengir.
d.       “Kolak...kolak....kolak...”teriakan remaja berkaos hitam yang bersaing dengan suara kendaraan di jalan raya.
  1. Kalimat di bawah ini yang mengandung fitur bahasa teks cerpen  adalah…
a.       Dahulu kala di tengah-tengah hutan yang sangat lebat di atas bukit terdapat sebuah desa yang dihuni oleh beraneka ragam serangga.
b.       Dahulu kala ada seekor anjing yang punya kebiasaan mendekati tumit orang.
c.        Hai...selamat  pagi....” kata  Mira  menyapaku. Aku  hanya tersenyum  melihat  tingkah  Mira.
d.       Dikisahkan hiduplah sekelompok binatang di sebuah kampung.
  1. a. Pada hari pertama setelah peraturan itu diberlakukan datanglah seekor kelinci.
b. Sambil terengah-engah kelinci itu minta maaf kepada sang singa yang ganas itu.
c. “Maaf sang raja, saya datang terlambat.
d. Ada singa lain yang tadi memburu saya,” kata si kelinci.

Susunan  kalimat di atas  sehingga menjadi  cerita yang urut adalah ….
a.       a-b-c-d             b. b-c-d-a           c.  c-d-a-b         d.  d-a-b-c
  1.  a. Hampir setiap malam mereka berkumpul bersama, berpesta, menari, dan bergembira.
b.        Mereka saling berbagi makanan kecuali seekor belalang yang selalu hidup menyendiri.
c.         Ia hanya memandang keramaian dari depan rumahnya.
d.       Tingkah belalang itu sangat aneh, ia malu karena ia telah kehilangan sebuah kakinya.
Susunan  kalimat di atas  sehingga menjadi  cerita yang urut adalah ….
a.       a-b-c-d         b. b-c-d-a       c.  c-d-a-b       d.  d-a-b-c

II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !

  1. Sebutkan  syarat-syarat yang harus dilakukan oleh pembawa acara !
  2. Tulislah ringkasan novel remaja yang pernah kamu baca atau  pernah kamu dengar !
  3. Sebutkan syarat-syarat berdiskusi yang baik!
  4. Susunlah teks argumen yang logis  dengan tema “bolehkah siswa membawa sepeda ke sekolah” !
  5. Susunlah 2 kalimat dengan  menggunakan kata sambung yang menyatakan perlawanan “ tetapi” !











































































Minggu, 14 Februari 2016

KH. Masjkur


KH Masjkur, Komandan Barisan Sabilillah
Satu dari sekian tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang layak disematkan gelar pahlawan adalah KH Masjkur (baca: Masykur). Kiai Masjkur yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI ini ikut berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah dan terdaftar sebagai salah satu “the founding father”.<>

Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1899 M/1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang pendidikan, dengan mendirikan Pesantren Misbahul Wathan. Namun, sebelum mendirikan pesantren dan terjun ke masyarakat, Masjkur muda terlebih dahulu telah mempersiapkan modal awal bagi dirinya sendiri, dengan mengenyam pelajaran agama di beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuan, antara lain Pesantren Kresek Cibatu, Pesantren Bungkuk Malang di bawah asuhan Kiai Thohir, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo untuk belajar nahwu sharaf dan di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo untuk memperdalam ilmu fiqih.

Kemudian, di Tebu Ireng Jombang, ia menimba ilmu hadist dan tafsir dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur muda juga pernah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Maka lengkap sudah, modal awal yang dimilikinya untuk menjadi seorang calon ulama dan pemimpin umat.

Ia juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta, di bawah asuhan KH Idris, seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini pula, ia bertemu dengan kawan-kawannya yang kelak juga menjadi pemimpin umat, antara lain KH Mustain (Tuban), KH Arwani Amin (Kudus) dan sebagainya. Sifat Kiai Idris yang terkenal non-kooperatif terhadap Belanda, ikut tertanam dalam jiwa sang murid, yang sedikit banyak mulai memahami arti penting perjuangan.

Mendirikan Pesantren

Setelah melanglangbuana ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, ia kembali ke Singosari dan di sana ia membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Wathan (Pelita Tanah Air) pada tahun 1923.

Beberapa tahun berikutnya, ketika Nahdlatul Ulama berdiri, ia pun ikut aktif di dalamnya, dan di tahun 1932 ia sudah menjadi Ketua Cabang NU Kota Malang. Di organisasi tersebut, ia sering meminta nasihat kepada KH Wahab Chasbullah. Salah satunya, ketika pesantren yang ia pimpin sering mendapat gangguan dari pemerintah kolonial. Atas saran Kiai Wahab pula, ia kemudian mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Sebelumnya, bersama Kiai Wahab, Kiai Masjkur juga sering mengikuti kegiatan kelompok Tashwirul Afkar yang sering membahas agama, dakwah dan sosial.
Pada tahun 1938, Masjkur diangkat sebagai salah satu Pengurus Besar NU yang berkedudukan pusat di Surabaya.

Perjuangan Perang

Keinginan untuk terbebas dari belenggu penjajahan, membuat para putera bangsa ini ikut mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan. Termasuk, Kiai Masjkur yang kala itu masih aktif sebagai seorang pengajar di Nahdlatul Wathan dan aktivis NU.

Pada zaman pendudukan Jepang, Masjkur menjadi utusan dari Karesidenan Malang untuk mengikuti latihan kemiliteran di Bogor, disusul dengan latihan khusus bagi ulama. Dari itulah, “karirnya” di bidang militer dimulai. Ia berjuang bersama pasukan Hizbullah. Hingga, sejak 1945-1947 ia diangkat menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub. Bagian Sabilillah yang berpusat di Kota Malang.

Belakangan, ia juga ikut dimasukkan dalam Dewan Pertahanan Negara dan anggota Konstituante.

Dalam suasana perang yang tengah berkecamuk, Masjkur beberapa kali dipercaya untuk mengemban amanah Menteri Agama (Menag), secara berturut-turut pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidenssil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI. Ia sempat mundur dari posisi Menag, karena sakit-sakitan akibat bergerilya. Pada masa Kabinet Ali-Arifin (1953-1955) ia kembali dipercaya untuk menjadi Menag.

Alhasil, ketika menjadi seorang menteri, ia juga ikut bergerilya bersama para pejuang lainnya (pernah pula bergabung bersama kelompok gerilyawan yang dipimpin Panglima Besar Soedirman), sembari tetap mengatur jalannya kementrian yang ia pimpin, mulai dari soal instruksi serta peraturan darurat. Kemudian juga menyusun KUA, pengadilan agama, pendidikan, madrasah, mengatur shalat, dan membantu secara nyata perjuangan nasional.

Sebagai Menag, tiap bulan ia mendapat gaji Rp. 300 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), jumlah uang yang saat itu cukup untuk makan sekeluarga selama sepekan.

Saat kembali menjadi Menag, di tahun 1954 Kiai Masjkur memprakarsai Konferensi Ulama yang diadakan di Cipanas Jawa Barat. Pertemuan para ulama tersebut, salah satunya menetapkan gelar “Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah” (pemegang pemerintahan dalam keadaan darurat dengan kekuasaan penuh) untuk Presiden Soekarno. Penetapan tersebut berdasar pada pertimbangan syara’, yakni Presiden RI saat itu terpilih belum memperoleh “baiat” dari rakyat karena tidak dipilih melalui Pemilu. Penetapan itu sekaligus menghapus kecurigaan dari golongan tertentu, apakah umat Islam Indonesia mengakui kepemimpinan Soekarno (RI) atau Kartosuwiryo (DI/TII).

Memimpin NU

September 1951, menjelang dilaksanakannya Muktamar NU ke-19 yang akan dihelat di Palembang, Saat itu NU masih masuk dalam Masyumi, PBNU membentuk sebuah badan yang bernama Majelis Pertimbangan Politik (MPP) PBNU, terdiri dari 9 ulama, termasuk di dalamnya Kiai Masjkur. Badan tersebut dibentuk dalam sebuah rapat PBNU yang diadakan di sebuah rumah milik KH Abdulmukti, Jl. Slamet Riyadi 45 Solo.

Kemudian, Muktamar NU ke-19 digelar 26 April – 1 Mei 1952 dan menghasilkan sebuah keputusan penting : NU memisahkan diri dari Masyumi!

Sejak Muktamar NU ke-19, Kiai Masjkur memimpin NU sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. bersama KH Wahid Hasyim yang menjadi Ketua Muda. Sedangkan posisi Rais ‘Aam masih dipegang KH Wahab Chasbullah.

Namun, setelah wafatnya KH Wahid Hasyim serta diangkatnya KH Masjkur kembali menjadi Menteri Agama, maka PB Tanfidziyah sehari-hari dipimpin oleh KH M Dahlan.

Kiai Masjkur terus berjuang bersama NU hingga akhir hayatnya. Tercatat selepas menjadi ketua, ia tetap aktif di kepengurusan PBNU yakni anggota tanfidziyah (1954-1956), Ketua Fraksi Konstituante Partai NU (1956-1959), Ketua Sarbumusi (1959-1962), Rais Syuriyah (1967-1971, 1971-1979) dan Mustasyar (1984-1989, 1989-1994). Hingga wafat pada tahun 1992, Kiai Maskjur masih tercatat dalam kepengurusan Mustasyar PBNU.

Kiai Masjkur dimakamkan di pemakaman yang terletak di kompleks Masjid Bungkuk Singosari Malang, yang juga terdapat makam KH Nahrawi Thohir dan Kiai Thohir. Lahumul-fatihah! (Ajie Najmuddin)

*Foto bersumber dari buku Aboebakar Atjeh tentang Sejarah Hidup KH A Wahid Hasjim. Foto ini belum banyak beredar.